Tuesday, December 27, 2011

Valentino Rossi Exclusive Interview (Seri 4): Pandangan Rossi pada Stoner di Ducati dan Honda!


Halo bro…jumpa lagi niiihh…masih ngelanjutin obrolan kita yang kemaren bro! Ada satu hal yang sangat menarik dari wawancara Rossi di MCN, yaitu bagaimana pandangan Rossi terhadap performa Stoner di Ducati dan Honda! Banyak yang ngomong kalau Stoner yang terbiasa menunggangi motor liar maka gak heran kalau langsung ngacir ketika nunggangin RCV yang jinak. Itu pandangan banyak orang…bagaimana dengan pandangan Rossi terhadap Stoner? Yuuuukkk….

“Casey’s performances facked us a little bit, and this is the truth. A lot of people thought the Ducati is fast because Stoner was in front, but maybe sometimes Stoner make Some stupid mistake and crashed a lot of times. So people always thought it was a problem of Stoner. But it is not true, because the problem is the bike is very difficult to ride and Stoner is very fast, but sometimes to stay with the Honda and the Yamaha you have to push too much and you make a mistake. So it is exactly the opposite of what people thought. And also Stoner, I think, has to say thanks to Ducati because over five years he developed a very strange riding style to ride that bike that is very good also with the other bikes. So when he jumped on the Honda for the first time having already tried the Ducati, I think after five laps he said, ‘Fack, what a choice’.”

Terjemah bebasnya kaya gini bro…”Performa Stoner memang sedikit menggangguku, dan itulah kenyataannya. Banyak orang yang berpikir bahwa Ducati kencang karena Stoner bisa membawanya ke jajaran depan, dan kadang Stoner mungkin melakukan kesalahan bodoh yang membuatnya jatuh berkali-kali. Jadi orang menghakimi kalau masalahnya berada di Stoner. Tapi itu gak benar, karena masalahnya adalah motor ini (Ducati) sangat sulit untuk dikendarai dan Stoner sangat kencang…kadang untuk dapat nempel Honda dan Yamaha (di balapan) kamu harus menekan motor lebih dari seharusnya dan akhirnya kamu akan melakukan kesalahan! Jadi yang terjadi sebenarnya adalah kebalikan dari apa yang dipikirkan banyak orang. Sedangkan Stoner, menurutku dia harus berterima kasih pada Ducati karena selama lebih dari lima tahun dia (Stoner) bisa mengembangkan gaya balap yang unik/ aneh sehingga ia bisa mengendarai motor yang bisa dikendalikan rider lain dengan baik juga. So, ketika dia menggunakan RCV untuk pertama kalinya setelah menggunakan Ducati, menurutku dalam lima lap dia ngomong, “Fack, what a choice.”

Hehehehe…ternyata Rossi juga berpikir kalau Stoner yang terbiasa menggunakan motor yang sulit dikendalikan langsung nyaman ketika menggunakan RCV. Menurut Rossi, pandangan kalau Stoner sering jatuh dengan Ducati karena Stoner kurang konsentrasi atau apa lah itu gak bener. Justru yang terjadi adalah Stoner menekan habis Ducati agar bisa nempel Honda dan Yamaha…saat itulah Desmosedici gak bisa dikendalikan lagi…“When you push more, you crash!”, itu omongan Rossi tentang Desmosedici. So, Stoner yang berkembang dengan gaya balap yang ‘aneh’ untuk dapat mengendalikan Desmosedici sangat beruntung ketika ia pindah ke jok RCV yang ramah dengan semua rider….

http://ngobrolmotor.wordpress.com/2011/12/20/valentino-rossi-exclusive-interview-seri-4-pandangan-rossi-pada-stoner-di-ducati-dan-honda/

Asiiikkk..Ada yang Menyala di MotoGP 2012 !


Halo bro…info pendek aja, buat kita-kita pecinta MotoGP. Di tahun 2012, ada beberapa perubahan regulasi terkait dengan peningkatan keamanan pembalap MotoGP. Setelah baru-baru ini mensyaratkan adanya penambahan pelindung tuas rem depan, ada aturan tambahan terkait balapan hujan. Apa ituuuu…..

Yup, di tahun 2012 motor-motor MotoGP harus dilengkapi lampu merah di bagian belakang motor. Lampu tersebut akan menyala ketika balapan dilakukan dalam kondisi hujan. Hohohoho…kaya di F1 aja ya bro…. Tapi yang jelas, lampu itu bakal bikin balapan MotoGP tambah menarik. Ketika balapan hujan aja udah menarik apalagi ditambah kelap-kelip lampu pengaman di motor. Belum ada penampakan perdana seperti apa lampu merah tersebut.

Siiipp…inovasi yang bagus. Karena kondisi hujan pastinya membatasi jarak pandang pembalap pada pembalap yang ada di depannya. Selain itu, sepertinya lampu merah itu bakal asik kalau dicontek dan diaplikasikan di motor harian… Setelah tragedi Marco Simoncelli, sepertinya pihak penyelenggara MotoGP lebih berpikir serius bagaimana meningkatkan kemanan di balap MotoGP….sip laaahhh..kita tunggu penampakan lampu merah itu!

Demikian sekilat info dari Samidi! Sampai zumpa di info-info selanjutnya…..Ciaooo…

http://ngobrolmotor.wordpress.com/2011/12/21/asiiikkk-ada-yang-menyala-di-motogp-2012/

Tuesday, December 20, 2011

Valentino Rossi Exclusive Interview (Seri 3): Menyesalkah Rossi Pindah ke Ducati?

Halo bro…ketemu lagi setelah kemaren libur beberapa hari Bijimane kabarnye…sehat-sehat aje bukeen…hehehehe… Yuukk..ngobrolin lagi hasil wawancara bareng Vale di majalah MCN. Sekarang ngobrolmotor bakal membahas satu hal yang banyak jadi pertanyaan, ‘Menyesalkah Rossi pindah ke Ducati?’ Yup… Perkawinan Impian, mungkin itulah bayangan banyak orang ketika Rossi memutuskan bergabung dengan Ducati dan meninggalkan Yamaha, pabrikan Jepang yang berpengaruh besar bagi kariernya. Saat itu, Rossi yang dipandang sebagai legenda hidup (G.o.a.T atau Greatest of all Time) diprediksi bakal semakin mencorong ketika menunggangi motor terliar di MotoGP, motor yang pernah dengan mudah memotong M1 di trek lurus…Desmosedici. Tapi ternyata, perkawinan impian pun butuh perjuangan…riding style Rossi yang menjadi kekuatannya justru menjadi kelemahan yang dimiliki oleh Desmosedici. Banyak pengamat, pecinta balap ataupun pembenci Rossi yang mencibir kepindahan Rossi ke Ducati. Banyak juga yang berpendapat bahwa kalau saja dia masih di Yamaha pasti dia masih bisa memperoleh kemenangan. Soo…apakah memang benar Rossi menyesal pindah meninggalkan Yamaha….sssttt…ternyata memang iya loohhh…monggo dibaca…



Despite all the crashes and the battering to his reputation, Rossi is adamant he won’t look back in anger and regret the minute he opted to walk out on Yamaha. “Sometimes I regret it, but once I start to think more deeply it is something that I had to try. So for me it is not a mistake. The fascination of the challenge is great and still fell that way. It is better to try and have some problems than never try at all and wonder for the rest of my life, ‘What if?‘. I race and I make all the choices of my career like this, and I have a lot of fun because of that. So despite what’s happened, at the end I have no regrets. The first to be let down is myself and all the people that work with me, and I know the fans are waiting, and expected much better results. Sometimes in the past I have been able to start from 11th on the grid but still win the race. So this year, when I’ve been in a similar situation, they have expected and thought it was possible to do the same. I wish it was like this. I am very sad to let down all my fans but this story is not finished. It will be difficult but we can only do better.

If anything, Rossi believes the toughest year of his career will only galvanise him and Ducati, and help him return stronger in 2012 for the inagural 1000cc MotoGP worls championship. For me a season like this helps me become stronger. Looking reality in the face, it is more difficult for me now – but this is normal life. But a season like this doesn’t change how i feel about my future. I want to stay some more years in motoGP, and I am convinced that I can come back at the top and fight for the important positions. For sure it will be impossible to make 11 victories in one season, but I can stay on the podium often. My first target is to try and come back at the top with Ducati, and we have to do this. We can’t finish this story like this. We have to bring the bike to a good level, closer to the Honda and Yamaha.

Walaupun jatuh bangun di musim ini dan menjadikan reputasinya sedikit babak belur, Rossi bersikeras gak bakal menyesali dan meratapi saat-sat dia memutuskan meninggalkan Yamaha.”Kadang aku menyesalinya, tetapi begitu aku berpikir lebih dalam, ini adalah satu hal yang harus aku coba. Jadi buatku, ini bukanlah satu kesalahan. Tantangan (pindah ke Ducati)sangatlah menarik dan aku masih merasakannya. Lebih baik mencoba sesuatu dan menghadapi beberapa masalah daripada sama sekali tidak pernah mencoba dan bertanya-tanya dalam sisa hidupku, ‘Bagaimana kalau….?’ Aku turun balapan dan mengambil semua keputusan dalam karirku dengan cara yang seperti ini dan aku menemukan banyak kesenangan karenanya. Jadi, apapun yang terjadi pada akhirnya aku tidak akan menyesal.

Selanjutnya, Vale malah menyebutkan kalau orang yang bakal dikecewakan oleh hasilnya saat ini adalah dirinya sendiri, dan kemudian orang-orang yang bekerja bersamanya. Vale pun tahu kalau fans menunggunya, mereka mengharapkan hasil yang lebih baik. “Dulu kadang aku masih bisa menang walaupun start dari grid ke-11. Jadi tahun ini, dimana aku menghadapi banyak situasi yang sama, fans berpikir dan berharap aku dapat melakukannya lagi. Aku berharap kalau saja seperti itu…Aku sangat sedih sudah mengecewakan semua fans ku, tapi cerita ini belum berakhit. Ini akan sulit, tetapi kami hanya bisa melakukan hal dengan lebih baik…”

Lebih jauh, Rossi berpendapat kalau masalah yang dihadapinya di Ducati justru bisa membuatnya lebih kuat. Melihat kenyataan di depan muka adalah hal yang berat, tapi itulah kehidupan. Musim berat di tahun 2011 ini tidak mengubah rencana Rossi di masa depan. Ia masih ingin berada di motoGP selama beberapa tahun kedepan dan yakin kalau ia masih bisa kembali ke atas dan bertarung untuk posisi-posisi yang penting. Tapi Rossi realistis, “tentu saja akan sulit menciptakan 11 kemenangan dalam satu tahun, tetapi aku dapat meraih podium lebih banyak. Target pertamaku adalah mencoba kembali ke level atas bersama Ducati. Kami gak bisa menyelesaikan cerita dengan cara seperti ini. Kami harus membawa motor (Desmosedici) ke level yang baik, lebih mendekati Honda dan Yamaha.”

Ooooowww….gitu toh pandangan Vale tentang masalah yang dihadapinya…. Sebagai manusia normal, tentu dia pernah merasakan penyesalan, tetapi baginya keputusan pindah ke Ducati lebih baik dibandingkan dia penasaran sampai mati bagaimana sebenarnya rasa jok Desmosedici… Walaupun kepindahannya ternyata belum semanis yang dia duga…

Saturday, December 17, 2011

Valentino Rossi Exclusive Interview (seri 2) : Kenapa Stoner Bisa Tapi Rossi Tidak (Belum) Bisa?

Halo bro..ketemu lagi..hehehe…yuk ngobrolin lagi interview Rossi yang kemaren. Kali ini ane bakal membahas tentang pendapat Rossi tentang ‘bagaimana bisa dia yang pernah mendominasi balapan gak bisa melakukan hal yang sama seperti Stoner di Ducati’. Mungkin banyak orang dan pengamat yang membandingkan Rossi dan Stoner saat nyemplak Ducati. Tapi kan itu pendapat pengamat, bagaimana dengan pendapat Rossi sendiri? Monggo disimak…

One question, though, has dominated debates across the globe. Why hasn’t arguably the greatest rider in the history of the sport been able to tame the Ducati like Stoner could? The Australian won 23 races in four years at Ducati. In doing so he made mugs of his less successful team mates Marco Melandri, Nicky Hayden and Loris Capirossi. And now Rossi, who couldn’t look less comfortable if he was riding a Space Hopper from London to John O’Groats: “This for me is one very bad thing, and one of the things I am the most sad about because in my career I have been able to ride every type of bike. Importantly I have been able to win on every type of bike from 125 to Superbike – except, at this moment, the Ducati. For me there are different reasons. Firstly, at 32 years of age, with along career on some other types of bike, it is quite difficult to change the riding style. Yamaha and Honda are different, but this bike is a lot different! Casey used the Ducati in only his second year in MotoGP. His first season was with Honda, but on Michelin and it was a 990, so he grew up with this bike and from that point of view it is easier. At that age you build your style. For me it is a bit late, and for this reason I have more problems.”

Terjemahan bebasnya seperti ini bro….Satu pertanyaan yang banyak muncul adalah bagaimana bisa seorang Rossi, juara dunia 9 kali tidak bisa menjinakkan Ducati seperti yang pernah dilakukan oleh Casey Stoner? Casey bisa memperoleh 23 kemenangan bersama Ducati, sedangkan Rossi baru satu podium…dengan bumbu keberuntungan. Apa kata Rossi? “Buatku, ini adalah hal yang sangat buruk, dan satu yang membuatku sedih adalah dalam karirku aku selalu bisa mengendarai semua tipe motor. Dan yang penting adalah aku bisa menangdi semua jenis motor mulai dari 125cc sampai dengan Superbike – kecuali Ducati saat ini. Buatku ada beberapa alasan yang berbeda yang bisa mendasarinya. Pertama, di usia 32 tahun ini, bersamaan dengan karirku tumbuh pada tipe motor yang berbeda (dengan Ducati, red), cukup sulit untuk mengubah riding style. Yamaha dan Honda memang berbeda, tetapi motor ini (Ducati) jauh bebeda! Casey terbiasa denagn Ducati pada tahun keduanya di MotoGP. Tahun pertamanya dengan Honda, dengan ban Michellin dan mesin 990,jadi bisa dikatakan Casey tumbuh bersama Ducati dan dari sudut pandang tersebut akan lebih mudah mengendalikan Ducati. Pada usia tersebut (usia Casey pindah ke Honda), adalah usia dalam membentuk style balap. Sedangkan buatku sedikit terlambat, dan karena alasan inilah aku menghadapi lebih banyak masalah.”

So….terjawab kan..dari jawabannya Rossi secara implisit menjelaskan kalau dia memang menghadapi kendala terkait dengan adaptasi yang dibutuhkan dalam mengendalikan Desmosedici. Rossi tumbuh bersama motor Jepang, walaupun Honda dan Yamaha memiliki karakteistik yangberbeda, namun masih sesuai dengan riding style Rossi. Sedangkan Ducati membutuhkan riding style yang sangat berbeda dibandingkan dengan riding style yang dimiliki Rossi. Ditambah usianya saat ini, usia ketika gaya balapnya sudah matang…bukan usia ketika membentuk gaya balap.

Mungkinkah setahun ini sudah cukup bagi Rossi untuk mencoba mengubah gaya balapnya? Karena kita masih ingat dan ane pernah tulis juga di awal musim 2011 bahwa Rossi ingin mengendalikan Ducati dengan rear wheel steering… Tetapi yang didapat di tahun ini justru bencana…semakin Rossi ingin menekan habis motornya, semakin besar kemungkinan dia untuk jatuh. So, dengan sasis twinspar yang sedang diracik oleh Ducati saat ini bisakah Rossi kembali ke riding style dia sebenarnya? Jawabannya seharusnya bisa kita dapatkan di bulan Januari saat dilakukan winter test di Sirkuit Sepang! Semoga….


http://ngobrolmotor.wordpress.com/2011/12/16/valentino-rossi-exclusive-interview-seri-2-kenapa-stoner-bisa-tapi-rossi-tidak-belum-bisa/

Valentino Rossi Exclusive Interview (Seri 1): Sejak Awal, Rossi Sudah Tahu Desmosedici Sulit Dikendalikan

Halo bro..ketemu lagi..hehehe…yuk ngobrolin lagi interview Rossi yang kemaren. Kali ini ane bakal membahas tentang pendapat Rossi tentang ‘bagaimana bisa dia yang pernah mendominasi balapan gak bisa melakukan hal yang sama seperti Stoner di Ducati’. Mungkin banyak orang dan pengamat yang membandingkan Rossi dan Stoner saat nyemplak Ducati. Tapi kan itu pendapat pengamat, bagaimana dengan pendapat Rossi sendiri? Monggo disimak…

One question, though, has dominated debates across the globe. Why hasn’t arguably the greatest rider in the history of the sport been able to tame the Ducati like Stoner could? The Australian won 23 races in four years at Ducati. In doing so he made mugs of his less successful team mates Marco Melandri, Nicky Hayden and Loris Capirossi. And now Rossi, who couldn’t look less comfortable if he was riding a Space Hopper from London to John O’Groats: “This for me is one very bad thing, and one of the things I am the most sad about because in my career I have been able to ride every type of bike. Importantly I have been able to win on every type of bike from 125 to Superbike – except, at this moment, the Ducati. For me there are different reasons. Firstly, at 32 years of age, with along career on some other types of bike, it is quite difficult to change the riding style. Yamaha and Honda are different, but this bike is a lot different! Casey used the Ducati in only his second year in MotoGP. His first season was with Honda, but on Michelin and it was a 990, so he grew up with this bike and from that point of view it is easier. At that age you build your style. For me it is a bit late, and for this reason I have more problems.”


Terjemahan bebasnya seperti ini bro….Satu pertanyaan yang banyak muncul adalah bagaimana bisa seorang Rossi, juara dunia 9 kali tidak bisa menjinakkan Ducati seperti yang pernah dilakukan oleh Casey Stoner? Casey bisa memperoleh 23 kemenangan bersama Ducati, sedangkan Rossi baru satu podium…dengan bumbu keberuntungan. Apa kata Rossi? “Buatku, ini adalah hal yang sangat buruk, dan satu yang membuatku sedih adalah dalam karirku aku selalu bisa mengendarai semua tipe motor. Dan yang penting adalah aku bisa menangdi semua jenis motor mulai dari 125cc sampai dengan Superbike – kecuali Ducati saat ini. Buatku ada beberapa alasan yang berbeda yang bisa mendasarinya. Pertama, di usia 32 tahun ini, bersamaan dengan karirku tumbuh pada tipe motor yang berbeda (dengan Ducati, red), cukup sulit untuk mengubah riding style. Yamaha dan Honda memang berbeda, tetapi motor ini (Ducati) jauh bebeda! Casey terbiasa denagn Ducati pada tahun keduanya di MotoGP. Tahun pertamanya dengan Honda, dengan ban Michellin dan mesin 990,jadi bisa dikatakan Casey tumbuh bersama Ducati dan dari sudut pandang tersebut akan lebih mudah mengendalikan Ducati. Pada usia tersebut (usia Casey pindah ke Honda), adalah usia dalam membentuk style balap. Sedangkan buatku sedikit terlambat, dan karena alasan inilah aku menghadapi lebih banyak masalah.”

So….terjawab kan..dari jawabannya Rossi secara implisit menjelaskan kalau dia memang menghadapi kendala terkait dengan adaptasi yang dibutuhkan dalam mengendalikan Desmosedici. Rossi tumbuh bersama motor Jepang, walaupun Honda dan Yamaha memiliki karakteistik yangberbeda, namun masih sesuai dengan riding style Rossi. Sedangkan Ducati membutuhkan riding style yang sangat berbeda dibandingkan dengan riding style yang dimiliki Rossi. Ditambah usianya saat ini, usia ketika gaya balapnya sudah matang…bukan usia ketika membentuk gaya balap.

Mungkinkah setahun ini sudah cukup bagi Rossi untuk mencoba mengubah gaya balapnya? Karena kita masih ingat dan ane pernah tulis juga di awal musim 2011 bahwa Rossi ingin mengendalikan Ducati dengan rear wheel steering… Tetapi yang didapat di tahun ini justru bencana…semakin Rossi ingin menekan habis motornya, semakin besar kemungkinan dia untuk jatuh. So, dengan sasis twinspar yang sedang diracik oleh Ducati saat ini bisakah Rossi kembali ke riding style dia sebenarnya? Jawabannya seharusnya bisa kita dapatkan di bulan Januari saat dilakukan winter test di Sirkuit Sepang! Semoga….

Bersambung bro….



Thursday, December 8, 2011

PEMBALAP SEJATI?? "LANGKAHI DULU ROSSI"


Valentino Rossi …. Legenda Moto yang masih hidup dan aktif membalap, masih menyimpan pesona yang dalam. Ibarat magnet, ke manapun Rossi pergi selalu dielu-elukan fans-nya. Bukan itu saja, sesama pembalap pun merasa belum menjadi jawara sejati sebelum dapat menaklukkan Rossi. Lorenzo dan Stoner boleh bangga karena telah dapat menaklukkan Rossi, tapi prestasi keduanyabelumlah dapat menyamai Rossi, sehingga kedua pembalap ini selalu merasa penasaran untuk mengasapi Rossi.

Musim 2011 Rossi seolah tenggelam, namun bukan berarti pamornya berkurang. Performance tunggangan Rossiyang melempem membuat para rider kelasatas semakin penasaran. Stoner dan Lorenzo boleh puas menyabet kampiun dan runner up, tetapi mang uDien yakin kepuasan mereka belum maksimal mengingat Rossi berada di atas tunggangan yang boleh dikatakan satu tingkat di bawah tunggangan Stoner dan Lorenzo.

Saking besarnya pamor Rossi, Marc Marquesberharap Rossi belum pensiun hingga dirinya naik ke kelas motogp kelas para raja. Motivasinya tiada lain Marc Marques ingin berduel dengan Rossi.

Yaaa, semoga sajah di musim 2012 tunggangan Rossi bisa berkembang dan kompetitif dengan RC213V serta M1, sehingga race menjadi seruu, selain itu dahaga Stoner, Lorenzo, Pedrosa untuk bersalip-salipan dengan Rossi bisa terpenuhidan ambisi Marques untuk berduel dengan Rossi di tahun 2013 juga bisa terpenuhi…

Marc Marquez Berharap Valentino Rossi Tak Beranjak Dari MotoGP


Marc Marquez berharap agar Valentino Rossi belum beranjak dari balap MotoGP pada akhir tahun 2012. Pembalap Moto2 yang berasal dari Spanyol tersebut ingin mengasah kemampuannya ketika bertarung melawan Valentino Rossi ketika dirinya siap berkompetisi di kelas MotoGP pada musim 2013.

Runner-up Moto2 tahun 2011 tersebut mengatakan, “MotoGP adalah mimpi saya dan juga merupakan impian pembalap terbaik seperti Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo, Casey Stoner dan Valentino Rossi. Saya berharap Rossi masih di MotoGP ketika saya membalap di sana karena dia merupakan salah satu pembalap terbaik sepanjang sejarah MotoGP dan saya ingin membalap bersamanya.”

Rider CatalunyaCaixa tersebut telah memutuskan untuk bertahan di kelas Moto2 pada tahun depan. Ia menambahkan, “Keputusan untuk tetap tinggal di Moto2 merupakan hal yang sulit namun itulah yang terbaik. Terdapat saat dimana saya memikirkan untuk naik kelas ke MotoGP tetapi saya sangat muda dan punya waktu. Saya akan punya lebih banyak pengalaman untuk tahun 2013 danitulah yang Anda butuhkan untuk bisa kompetitif di MotoGP.”

Marc Marquez merupakan pembalap yang digadang-gadang sebagai penerus kesuksesan Valentino Rossi. Ia gagal menjadi juara dunia Moto2 2011 setelah mengalami crash saat sesi latihan bebas di Sepang yang memaksanya absen selama dua balapan akibat gangguan pengelihatan. Konsekuensinya, Stefan Bradl dinobatkan untuk menjadi juara Moto2 dan akan membalap di kelas MotoGPbersama Tim LCR Honda pada tahun 2012.

Sementara Valentino Rossi telah mendukung keputusan yang diambil Marc Marquez untuk bertahan di kelas Moto2 satu tahun lagi. Kemungkinan Marquez akan bergabung ke tim satelit Honda saat memulai debutnya di kelas premier.