Dr. Costa – Masao Furusawa – Kevin Schwanzt – Giacomo Agostini – Loris capirossi dan Kenny Roberts Jr.
sebelumnya… mbah ucapken “slamet berhari minggu” bagi gp lover’s yang menjalankannya. wkwkwkwk… Ok! kita lanjut saja pada inti pokok masalahnya yah
Ini masih mengenai Valentino Rossi, yang mana… Banyak para ahli MotoGP yang gak mau kalah dalam membicarakan tentang Valentino Rossi dan Ducati, tanpa terkecuali para fans dan termasuk yang gak sneng dengan berita mengenai Juara Dunia 9x. Dan malah… ada yang nyeletuk - di page-nya mbah, klik disini yang bunyi celetukannya begini: Wuah, payah… page apa-an ini, yang di britain koq malah “Rossi” mlulu, yang “Netral” dun’d !!!
dan jika ada yang nyeletuk begitu, sperti biasalah, mbah secara reflex akan langsung jampe-jampe dengan ajian sakti yang tentunya gak banyak orang yang mempunyainya
agar bisa secepatnya masuk …, seperti gambar yang terlihat di bawah ini:
Okelah… setelah Dr. Costa – Masao Furusawa – Kevin Schwanzt – Giacomo Agostini – Loris capirossi yang memberikan simpatinya terhadap juara dunia 9x Rossi… dan kali ini giliran Kenny Roberts. Jr yang unjuk bicara. Mantan dunia di kelas 500cc yang pernah head to head dengan Rossi selama beberapa tahun ini merefleksikan situasi Rossi saat ini dengan karir nya sendiri seperti yang dikutip dari Superbike Planet.
“Ini situasi mental yang serupa denganku sewaktu saya masih Suzuki”, ujarnya. Saya rasa Valentino saat ini istilahnya kurang kompetitif bahkan lebih dari itu, ia tidak bisa mendekati pembalap di depan. Saya selalu mengatakan kepada Suzuki pada awal musim tahun 1999 bahwa Suzuki tidak akan kompetitif bila mereka tidak melakukan perubahan besar. Saya tahu jenis horsepower dan elektronik Tim Roberts di awal tahun 1990. Saya kompetitif, memenangkan balapan, dan mengatakan kepada mereka bahwa kita bisa lebih baik. Mereka tidak melihat kesukesan setelah era Kevin Schwantz.
“Saya kira Valentino berkaca pada dirinya sendiri. “Lihat, saya telah meraih gelar juara dunia, saya telah memenangkan banyak balapan. Saya telah melakukan semua, dan jika saya berada di Honda atau Yamaha, saya akan kompetitif. Saya pikir kita semua akan begitu yakin. Ketika anda telah meraih sesuatu, orang tahu bahwa anda mampu. Rossi mungkin merasa itu bukan tugasnya untuk membalap di posisi ke-5 atau ke-6. Ducati juga mengontraknya bukan untuk mengincar posisi tersebut. Ketika hasilnya buruk, anda harus benar-benar memikirkan apa yang sedang terjadi”.
Dalam situasi ini Roberts mengerti Rossi kelelahan dalam menggeber abis GP12.
“Bakat tidak bisa mengatasi masalah dalam mengendarai motor, okay? Khususnya setelah era 500cc – itu mustahil. Ia memandangnya seperti ini, saya mengendarai motor ini 110% tapi apa?? Saya finish ke-5. Mengendarai motor motor 110% itu beresiko buat pembalap. Rata-rata sukses yang saya raih ketika mendorong motor lebih dari 100% di tahun 1999-2000 adalah…. well, bisa saya katakan hampir 80% saya mendarat di tanah alias nyungsep, dan marah.”
Situasi ini pun sama sepertiku dan John Hopkins, saya ingat pernah saya katakan kepada Hopkins, “Hey bung, anda hanya akan mencelakakan diri anda sendiri bila menggeber motor melebihi batas. John biasanya mengendarai motor melebihi limit di lap pertama atau kedua untuk memperoleh catatan waktu yang baik. Tapi sering kali bila ia melakukan hal tersebut, ia tidak kembali ke garasi. Melainkan ia telah masuk ambulan. Dan terkadang bila ia kembali, ia mengalami patah tulang tulang dan crash sehingga harus patah gigi”.
Kenny Roberts Junior tidak mempertanyakan mengenai bakat seorang Valentino Rossi.
“Lihatlah Valentino memiliki begitu banyak bakat, dan ia telah meraih semua apa yang telah ia menangkan. Ia mungkin sama bakatnya seperti ayah saya – canda Robert – tapi banyak hal yang bukan hanya dilihat dari bakat saja. Itu suatu keberuntungan Valentino bisa menang dengan motor yang pas buat dia, motor yang tepat di waktu yang tepat. Pikirkanlah lagi : di era 500cc kami memiliki ban 17 inch. Dan saya bisa meraih gelar juara, itu salah satu bagian mengapa Suzuki bisa kompetitif, kemudian mereka beralih ke ban 16.5 inch dan manfaat horsepower pun tak ada. Kala itu Rossi di Honda dan ia tahu itu. Ia bersama Jeremy Burgess”.
“Saya tidak meremehkan Valentino Rossi, ia berbakat, ia mengagumkan. Sekarang ia berjuang dengan motor. Ia berjuang dengan elektronik, feeling, kecepatan dan banyak lagi. Tak ada lagi kesenangan yang didapatnya dari balapan. Baginya sekarang tak ada lagi keasyikan, tapi di waktu yang bersamaan sebenarnya itulah balapan. Anda tidak mendapatkan motor sempurna setiap musim. Jika sekali saja anda mendapatkan motor sempurna, anda beruntung!”.
http://motogpindo.wordpress.com/2012/04/15/kenny-roberts-jr-vale-selamat-datang-ke-balapan-yang-sesungguhnya/
No comments:
Post a Comment